Search

6 Kesalahan Umum HRD dalam Merekrut Karyawan


"Recruiter yang baik akan menyeleksi calon karyawan dengan hati-hati."

HRD gak boleh sembarangan lolosin calon karyawan! Cari kerja di masa new normal ini memang gak mudah, baik bagi calon karyawan maupun pihak perekrut seperti Headhunter dan Recruiter. Tapi meski kasihan pada nasib orang yang belum kerja atau perusahaan sedang butuh banyak karyawan, HRD tidak boleh asal!


Baca Juga: Kenapa Karyawan Top Suka Resign Tiba-Tiba?


Sayangnya, HRD juga manusia. HRD veteran pun bisa melakukan kesalahan. Berikut 6 kesalahan umum HRD dalam merekrut karyawan, agar kamu bisa menghindarinya!

6 Kesalahan Umum HRD dalam Merekrut Karyawan

1. Kurang Penyaringan

Tahap pertama dalam merekrut karyawan adalah menyaring jumlah lamaran kerja yang masuk. Baik dari dokumen, e-mail, sampai form registrasi, HRD harus menyeleksi semuanya secara ketat dan sesuai kriteria perusahaan.


Namun, proses screening ini kadang ‘dipercepat’ oleh HRD dan tidak diperiksa teliti. Mungkin dokumen wajibnya kurang, informasi tidak sesuai dengan data pelamar, dsb, tapi diloloskan. Memang ini pekerjaan merepotkan, tapi harus rajin!


2. Bias Dari Atasan dan Rekan Kerja

Kadang lamaran kerja masuk dari atasan atau rekan kerja Anda. Mungkin niatnya baik, agar temannya bisa dapat kerja. Tapi ini membuka banyak celah!


HRD merasa tertekan untuk meloloskan kandidat ‘rekomendasi’ dari atasan atau rekan kerja, terlepas dari kualifikasinya. Entah karena takut dipecat atau ingin setia kawan, HRD pun asal meloloskan mereka.


Ini salah! Jangan sampai emosi pribadi mengubah hasil seleksi karyawan!


3. Melupakan Kandidat Internal

Proses perekrutan karyawan itu banyak tahapannya. Karena HRD begitu fokus untuk screening dan persiapan interview kerja, mereka melupakan kandidat potential tersembunyi: karyawan perusahaan saat ini!


Ya, karyawan internal yang saat ini sudah bekerja dan punya posisi sendiri di perusahaan pun adalah kandidat potensial! Memang mereka sibuk, tapi masih bisa menerima tugas baru dengan kompensasi kenaikan gaji.


Karena mereka sudah berpengalaman, resiko dan biaya yang ditanggung lebih kecil dari merekrut karyawan baru. Selama masih mungkin, ya.


4. Mengabaikan Pengalaman

Selain untuk posisi kerja ‘Fresh Graduate’, pengalaman calon karyawan harus diperhatikan!


Kalau pengalamannya sedikit tentu kurang baik, tapi lebih buruk lagi kalau pengalamannya gak sesuai dengan posisi yang dilamar! Jangan sampai langsung oke aja begitu lihat pengalaman 5 tahun lebih, ya. Cek dulu!


5. Menyisihkan Latar Belakang

Kalau CV dan Resume calon terlalu bagus, ada baiknya curiga sedikit dan periksa latar belakang mereka. Mungkin mereka punya kasus tertentu di masa lalu atau berbohong soal sesuatu?

Bukannya diskriminasi, tapi latar belakang kandidat itu penting. Kalaupun tidak mempengaruhi lolosnya kandidat, itu bisa bahan pertimbangan saat mereka bekerja di perusahaan nanti.


6. Tidak Ada Follow Up

Salah satu hal yang sebenernya sepele, tapi sering diabaikan HRD adalah mem-follow up kandidat! Entah mereka lolos atau gagal, sebaiknya kabari melalui telepon, pesan whatsapp, atau e-mail.


Dengan komunikasi yang baik ini, HRD akan dipercaya oleh kandidat yang tidak lolos sekalipun. Selain menjaga image perusahaan, juga mendorong lebih banyak kandidat baru untuk mencoba! Ini baru HRD profesional!

Sekian tips dan trik kami untuk 6 kesalahan umum HRD dalam merekrut karyawan! HRD dan pencari kerja sama-sama susah, jadi ada baiknya saling berkompromi dan memahami tugas masing-masing.


Mau lowongan kerja baru? Kirim CV dan Resume kamu ke Kessler Executive Search agar karir ke depan lancar! Tetap semangat bekerja ya, teman-teman!


Sumber: idntimes.com

203 views0 comments

Recent Posts

See All